Online

Ya, , , , , , ,kami merupakan blog online, kami juga bergerak di bidang berita dan toko online, , , , , silakan kunjungi IKLAN KAMI, terima kasih

Kerja sama Tim

Kerja sama tim merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan ini. Kami juga sering mengalami perbedaan pendapat dalam mengatur blog ini, tapi selalu ada jalan keluar yang kami temukan. Itu semua untuk memperbaiki kekurangan Blog kami.

Batu Permata

Ibarat Batu Pertama, kami ingin blog kami indah dan d gemari oleh semua kalangan.

Sexy Porn

Tak dapat dipungkiri, kami juga manusia biasa yag masih mempunyai nafsu. Tak jarang kami juga memposting hal-hal yang berbau S*x ataupun po*no

Minggu, 03 Maret 2013

Tentang Lambang Zodiak

Capricornus

Menurut mitologi bangsa Yunani, kambing yang dijadikan lambang zodiak ini memang kambing betulan. Namanya Amaltheus. Kambing ini pernah memberikan air susunya kepada dewa Zeus, ketika dewa tertinggi bangsa Yunani kuno ini masih bayi, dan berada dalam gua disembunyikan ibunya sebab takut dimangsa bapaknya yang ganas bernama Chronoos. Karena jasanya ini, kambing ini lalu diangkat ke langit, dibekali cahaya. Dan jadilah bintang.

Aquarius

Dilambangkan oleh seorang pemuda kece yang sedang menuang air dari tempayan besar. Siapa sih cowok kece ini? ialah yang bernama Ganimedes, pelayan paling setia dewa Zeus. Tugasnya memang membawakan minuman dewa paling agung bangsa Yunani itu.

Pisces

Dilambangkan dengan dua ekor ikan. Kedua ekor ikan ini telah berjasa membawa dewi Venus (dewi kecantikan) dan dewa Mars (dewa perang) ke sungai Eufrat, waktu mereka di kejar oleh Typhon.

Aries

Dilambangkan oleh seekor domba. Domba ini bukan sembarang domba. Domba ini berbulu emas. Ia dikorbankan kepada dewa tertinggi sebagai persembahan, ternyata dewa Zeus senang menerimanya. Dan ia pun dijadikan bintang.

Taurus

Dilambangkan oleh sapi jantan. Taurus berasal dari kata Taureau yang artinya sapi jantan. Sapi ini adalah jelmaan dari dewa Zeus (Yupiter). Konon menurut ceritanya dewa Zeus paling suka sama gadis-gadis cantik. Ia juga terkenal sebagai dewa yang paling banyak istrinya. Maka, ketika ia melihat kecantikan putri Eropa, yang cantiknya tiada tara, saking kesemsemnya ia mengubah dirinya menjadi sapi jantan agar dapat menculik putri Eropa.

Gemini

Dilambangkan dengan sepasang dua anak kembar. Mereka adalah putra dari dewa Zeus. Kedua anak kembar ini bernama Castor dan Polux.

Cancer

Dilambangkan oleh kepiting. Merupakan jelmaan ular bernama Hydra. Ular ini di kirim oleh Yuno, untuk melawan Hercules (pemuda yang dikenal kuat dan gagah berani). Ular yang di kirim oleh Yuno ini ternyata sangat beracun dan mempunyai banyak kepala. Apabila kepalanya ditebas oleh Hercules maka akan tumbuh lagi. Hercules dengan cerdiknya, membakar leher ular itu. Maka habislah riwayat sang ular. Kemudian ular itu dijadikan bintang. Membunuh ular adalah salah satu dari 12 tugas Hercules yang sangat berat.

Leo

Dilambangkan oleh singa. Singa ini merupakan salah satu dari 12 tugas Hercules yang sangat terkenal. Singa ini merupakan singa yang paling ganas yang harus ditaklukkannya.

Virgo

Lambangnya adalah seorang putri yang sangat cantik. Putri ini adalah jelmaan putri Astrea yang hidup di zaman emas. Pada waktu itu ia turun dari langit ke bumi. Tetapi ia tak tinggal di bumi, karena tidak tahan melihat penderitaan dan kejahatan yang dilakukan manusia di bumi. Maka ia kembali ke langit dan menjelma menjadi bintang. Orang Yunani membagi zaman ini menjadi 4, yaitu zaman emas, perak, perunggu dan besi

Libra

Dilambangkan dengan neraca atau timbangan. Merupakan simbol dari keadilan. Putri yang menguasai keadilan adalah putri Justicia. Asal-usulnya tidak diketahui secara pasti.

Scorpio

Lambangnya adalah kalajengking. Mempunyai asal-usul yang sangat menarik. Yaitu, terjadi cinta segi 4 (bukan cinta segi3 lagi). Antara Orion ( pemuda yang tampan), Diana (dewi bulan), Venus (dewi kecantikan) dan Aurora (dewi fajar). Karena ketampanan Orion, ia dicintai 3 cewek kece sekaligus. Karena cemburu kepada kedua rivalnya, Diana mengirim kalajengking kepada Orion. Kalajengking itu menggigitnya hingga mati. Diana menyesal atas perbuatannya. Dan memohon kepada dewa Zeus agar Orion dijadikan bintang. Karena ia tidak bersalah, maka dewa Zeus mengangkatnya menjadi bintang dalam gugusan bintang scorpio.

Sagitarius

Lambangnya adalah makhluk berbadan kuda, berkepala manusia yang sedang memanah. Makhluk ini diberi nama Centaurus. Sebetulnya Centaurus adalah para monster, musuh para dewa dan manusia. kecuali Centaurus bernama Chyron adalah sahabat serta guru para dewa dan manusia. ia mengajarkan cara menggunakan senjata dan memanah dengan baik. Karena jasa inilah, ia diangkat menjadi bintang.

Disalin dari prajapratama.blogspot.com


Sabtu, 02 Maret 2013

Lembaran sejarah di balik nama-nama bulan

Selamat tahun baru 2010. Tahukah Anda bahwa di masa lalu tidak ada bulan Januari yang selalu kita sambut sebagai awal tahun baru? Bangsa Romawi merayakan tahun barunya pada tanggal 1 Maret! Bagaimana bisa begitu? Dan sejak kapan awal tahun baru berganti menjadi Januari? Wisata Kata di awal tahun ini membawa Anda menerawang ke masa lalu dan membuka kembali lembaran sejarah di balik nama-nama bulan.

Kalender Romawi pertama diperkirakan diperkenalkan pada tahun 738 SM oleh Romulus, pendiri Kerajaan Romawi yang legendaris. Satu tahun kalender kuno ini terdiri atas 304 hari yang dibagi menjadi 10 bulan. Setiap bulan merupakan kurun waktu dari satu bulan purnama ke bulan purnama berikutnya. Bangsa Romawi tampaknya mengabaikan atau tidak menghitung dua bulan pada musim dingin.

Tahun baru diawali dengan vernal equinox yang menandai musim semi. Vernal equinox adalah saat matahari berada di khatulistiwa, dan ini menyebabkan waktu siang hari sama panjangnya dengan waktu malam hari. Saat tersebut menurut kalender sekarang terjadi pada setiap tanggal 21 Maret. Maka, bulan pertama dalam tahun kalender Romulus ini jatuh pada bulan Maret yang kisahnya dituangkan di sini bersama kisah di balik nama bulan-bulan lainnya.

Kaisar Romawi yang kedua, Numa Pompilius (sekitar 715–673 SM) memutuskan untuk menambahkan dua bulan untuk mengisi dua bulan musim dingin yang tidak dihitung tersebut. Maka, muncullah bulan Januari dan Februari.
Perubahan Kalender.

Kalender yang lama ditentukan berdasarkan perhitungan bulan dan semakin dirasakan tidak cocok dengan masa pergantian musim. Untuk mengoreksinya, Julius Caesar, pada tahun 46 SM, mempekerjakan seorang ahli astronomi, Sosigenes, untuk meninjau kembali kalender tersebut. Sosigenes mengusulkan untuk menggunakan matahari, bukan bulan, sebagai dasar penetapan kalender. Dia juga mengusulkan adanya tahun kabisat, dan memindahkan awal tahun dari tanggal 1 Maret ke tanggal 1 Januari. Semua usul ini diterapkan pada kalender Julius yang dimulai pada tanggal 1 Januari 45 SM. Dengan adanya dua bulan tambahan yang mendahului awal kalender, maka bulan September, Oktober, November, dan Desember tidak lagi menjadi bulan ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh sebagaimana yang disiratkan oleh asal-usul namanya. Meskipun demikian, nama keempat bulan itu tetap dipakai dan tidak pernah diubah.
Januari

Pada saat lonceng berdentang dua belas kali di malam tahun baru, yang menandai peralihan dari bulan Desember ke bulan Januari, kita mengucapkan selamat tinggal kepada tahun yang silam dan menyambut kedatangan tahun yang baru. Sungguh tepat bahwa bulan yang pertama ini disebut Januari –dewa bangsa Romawi, Janus, yang namanya digunakan untuk menamai bulan pertama ini, selalu ditampilkan berwajah dua; satu menghadap ke masa lalu dan satu lagi ke masa depan. Nama January masuk ke khazanah bahasa Inggris pada abad ke-14. Sebelumnya, bulan pertama ini disebut Wulf-Monath atau “bulan-serigala” karena pada awal tahun tersebut, musim salju yang dinginnya sangat menusuk tulang menyebabkan para serigala mendatangi permukiman manusia untuk mencari makan.
Februari

Riwayat nama bulan Februari sangat menarik. Pada setiap tanggal 15 pada bulan itu, berlangsung sebuah upacara keagamaan Romawi kuno dengan memukuli para wanita mandul. Peristiwa “pemurnian” ini disebut festival Lupercalia dan diselenggarakan di dalam gua di tepi Sungai Tiber. Dua orang pemuda remaja dipilih untuk memainkan peranan utama dalam upacara tersebut. Setelah beberapa ekor kambing dikorbankan, dari kulit hewan tersebut dibuat alat sejenis pecut. Pecut ini dinamakan februa atau “alat pemurnian”, dan kalau dipukulkan kepada wanita mandul, kemandulannya diyakini akan sirna. Kedua remaja pilihan tadi berlari-lari mengelilingi kota sambil membawa pecut masing-masing, lalu memukuli semua wanita mandul yang mereka jumpai. Entah bagaimana mereka mengetahui siapa wanita yang mandul, atau mungkin juga wanita mandul sudah menjadi rahasia umum seisi kampung.

Kesaktian pecut tersebut dalam menyembuhkan kemandulan mungkin berasal dari Juno, dewi kesuburan yang sering disebut Februaria, dan dari nama sang dewilah kita memperoleh nama bulan kedua ini. Pada mulanya, Februari memiliki 29 hari, tetapi Senat Romawi mengambil satu hari untuk diberikan kepada bulan Agustus agar Agustus tidak merasa kalah oleh bulan Juli.
Maret

Seperti telah dikemukakan, bulan ketiga dalam kalender modern kita memegang peranan penting dalam penentuan awal tahun. Sebelum masa pemerintahan Julius Caesar, tahun baru Romawi diawali pada bulan Maret. Bulan ini bukan saja mengawali tahun baru, tetapi merupakan awal musim perang. Nama bulan ini berasal dari kata Prancis Lama, melalui bahasa Latin Martius, yang secara harfiah berarti “bulan Mars, sang dewa perang”.

April

Pada bulan inilah musim semi dimulai, dan bunga-bunga mulai bermekaran atau terbuka kuncupnya. Cendekiawan Romawi bernama Varro (116–27 SM) menyebut bulan ini Aprilis, diambil dari kata Latin aperio yang berarti “terbuka”. Menurut kamus Ayto, nama bulan ini berasal dari kata Yunani Aphro, kependekan dari Aphrodite , nama dewi Yunani yang melambangkan cinta.
Mei

Pada bulan inilah konon “burung berkicau merdu dan suara kura-kura bersahut-sahutan”. Sir Thomas Malory (1400–1471), penulis berkebangsaan Inggris, menyebut bulan ini “bulan penuh nafsu”. Anehnya, bulan Mei yang romantis ini justru dianggap bulan sial untuk menikah. Bangsa Romawi menolak pernikahan bulan Mei karena pada bulan inilah berlangsung festival untuk menghormati Bona Dea , dewi yang tidak pernah berhubungan intim atau bersanggama. Festival bagi kematian yang tidak menyenangkan juga berlangsung pada bulan Mei. Kata Mei berasal dari kata Latin, Maius, yang diperkirakan berasal dari kata Maia, ibunda dewa Hermes, dewa yang dikaitkan dengan perdagangan, penciptaan, dan kelicikan. Tetapi, menurut kamus Webster, Maia adalah ibu Merkurius yang berayah Jupiter.
Juni

Nama bulan ini mungkin berasal dari Junius, nama keluarga Latin yang membunuh Julius Caesar. Sejumlah cendekiawan yakin bahwa nama Juni berasal dari nama Juno, dewi pelindung kaum wanita, karena sejak awal zaman Romawi bulan ini merupakan bulan yang paling disukai untuk pernikahan. Dewi Juno adalah saudara perempuan dan juga istri Jupiter.
Juli

Nama bulan ini diusulkan oleh Mark Antony, jenderal bangsa Romawi dan kekasih Cleopatra. Semula bulan ini disebut Quintilis yang berasal dari kata sifat quintus yang secara harfiah berarti “kelima”; bulan ini memang bulan kelima bila Maret dianggap bulan pertama. Pada tahun 44 SM, Antony mengusulkan agar bulan kelahiran Caius Julius Caesar ini dinamakan Julius sebagai penghormatan kepada sang Caesar. Ironisnya, pada saat nama tersebut mulai digunakan, pada tahun itu pulalah (44 SM) Julius Caesar terbunuh. Dalam bahasa Inggris, nama bulan ini mula-mula Julie, kemudian berubah menjadi July. Orang Malaysia menyebutnya bulan Julai.
Agustus

Octavian, salah seorang kaisar Romawi (63 SM–14), adalah keponakan Julius Caesar. Dia mendambakan memiliki kemasyhuran dan kekuasaan seperti pamannya. Antara lain, dia menginginkan ada nama bulan yang didasarkan atas namanya sendiri. Hari ulang tahunnya jatuh pada bulan September, tetapi dia memilih bulan Agustus untuk menyandang namanya karena bulan ini banyak membawa keberuntungan baginya. Senat menganugerahkan gelar kebangsawanan Augustus kepadanya pada tahun 27 SM sebagai pengakuan atas jasa-jasanya bagi negara. Maka, sejak tahun 8 SM, bulan pilihan Kaisar Octavian ini dinamakan Augustus; yang dalam bahasa Indonesia disebut Agustus, dan dalam bahasa Malaysia disebut … Ogos!
September

Karena awal tahun bangsa Romawi mula-mula jatuh pada bulan Maret, maka September adalah bulan yang ketujuh. Nama September diambil dari kata Latin septem yang berarti “tujuh”. Ketika kalender berubah dan September menjadi bulan kesembilan, namanya tidak berubah.
Oktober

Pada musim inilah asap dedaunan yang terbakar memenuhi udara. Bahkan penyair Romawi, Martial, menyebut Oktober sebagai “fumosus” atau “berasap” karena masa pembakaran daun sudah tiba. Nama Oktober itu sendiri berasal dari kata Latin octo yang berarti “delapan” karena bulan ini adalah bulan kedelapan sebelum awal kalender diubah.
November

Karena Kaisar Augustus dan Julius Caesar masing-masing sudah memiliki bulan sendiri-sendiri, kaum politikus Romawi yang sangat mengagungkan kesopanan berpendapat sudah sewajarnya jika bulan November diganti namanya sesuai dengan nama Kaisar Tiberius. Tetapi, Tiberius menolaknya dan berkomentar dengan nada bercanda: “Bagaimana kalau kaisarnya ada sebelas?” Maksudnya tentulah bahwa kaisar yang ke-11 itu tidak akan kebagian bulan untuk dinamai sesuai dengan namanya. Maka, nama bulan ini pun tetap disebut November, dari kata Latin novem yang berarti “sembilan”.
Desember

Lucius Aelius Aurelius Commodus, Kaisar Romawi menjelang akhir abad kedua, bertanya kepada gundiknya, apakah dia ingin namanya diabadikan dalam kalender. Sang kaisar menginginkan nama Amazonius karena kekasihnya itu pernah dilukis sebagai Amazon. Tetapi, Senat rupanya tidak setuju dan meminta sang kaisar untuk menonton pertarungan antara para gladiator saja sehingga ia lupa akan niatnya tersebut. Maka, bulan terakhir itu tetap dinamai Desember, dari kata Latin decem yang berarti “sepuluh” karena bulan ini adalah bulan kesepuluh dalam kalender yang belum diubah.
Penutup

Dari berbagai kamus yang saya gunakan sebagai acuan, riwayat nama bulan memang bermiripan dan saling melengkapi. Yang sering membingungkan adalah tahun yang tercantum sebagai masa pemerintahan para kaisar Romawi. Selain itu, “identitas” para dewa pun simpang siur. Namun, semua kisah dalam tulisan ini memang bukan dimaksudkan untuk diperiksa satu per satu kebenarannya bukan? Sampai di sini dahulu, pembaca. Insya Allah kita jumpa lagi nanti.

Ditulis oleh Sofia Mansoor. Dimuat pertama kali untuk Berita Buku, Januari 1997. Sumber: Funk, Word Origins; Webster’s Word Histories; Ayto, Dictionary of Word Origins; dan berbagai kamus.


Jumat, 01 Maret 2013

20 Juta Pramuka Bisa Mendorong Perdamaian Dunia

Gerakan Pramuka Indonesia merupakan organisasi pramuka terbesar di dunia karena memiliki anggota sekitar 20 juta orang sehingga menjadi panutan bagi negara lain di dunia.

“Dengan jumlah tersebut hendaknya pramuka kita dapat memberikan dan mendorong perdamaian di seluruh dunia,” kata Ketua Kwanas Gerakan Pramuka Indonesia Azrul Azwar didampingi Menpora Andi Malarangeng, Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Walikota Jaksel, Anas Effendi saat menerima kunjungan Ketua Kehormatan Wolrd Scout Poundation Raja Swedia Carl XVI Gustaf, bulan Februari lalu.

Menurut Azrul, Indonesia yang memiliki 20 juta anggota pramuka adalah jumlah terbesar di organisasi pramuka dunia sedangkan penduduk Swedia saja 9 juta, dan bakal merekrut dua juta anggota untuk jadi “Messengers of Peace” (Duta Perdamaian) akan dilatih serta akan mengundang seluruh dunia.

Raja Swedia Carl XVI Gustaf, sangat terkesan dengan inisiatif Pramuka Indonesia dalam membangun komunitas karena program Pramuka dunia hanya ada dua yaitu Jambore dan Raimuna. Bahkan, selaku Ketua Kehormatan Word Scout Poundation, kegiatan pramuka dunia juga akan ditambah hasil kunjungan di Indonesia yaitu Komunity Development Camp untuk melihat dimana letak kekuatan gerakan pramuka dalam pengabdian di masyarakat.

Dalam kesempatan mengunjungi Pramuka Gugusdepan Sekolah Luar Biasa (SLB) A, Jl. Pertanian, Kel. Lebak Bulus, Jaksel, Raja Swedia juga berksempatan mmberikan bantuan senilai 500.000 dollar AS untuk mendukung gerakan pramuka di Indonesia.

Sumber pramukanewss.blogspot.com

Sejarah Asal Usul Nama Hari

Banyak orang di masa lalu, percaya bahwa langit itu berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang ada-nya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit yang lebih cepat gerak-nya di langit dianggap lebih dekat jarak-nya. Lalu mereka menggambar-kan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah.

Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpul-kan sebagai yang paling dekat. Langit kedua ditempati Merkurius (Bintang Utarid). Venus (Bintang Kejora) berada di langit ketiga. Sedang-kan matahari ada di langit keempat. Di langit kelima ada Mars (Bintang Marikh). Di langit keenam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ketujuh ditempati Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta.


Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang memengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruh-nya bergantian dari jam ke jam, dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnus-lah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1, memang jatuh pada hari Sabtu. (Hitunglah dengan cermat dan jangan sampai keliru yah ^_^!)

Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikut-nya jatuh pada Matahari. Jadi -lah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday). Hari berikut-nya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikut-nya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikut-nya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa Petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Rowawi kuno).

Jumlah hari yang ada tujuh itu, dalam bahasa Arab, nama-nama hari-nya disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini, sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari keenam disebut secara khusus: Jum’at, sebab itu-lah penamaan yang diberi-kan Allah di dalam Al-Qur’an, yang menunjuk-kan ada-nya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti hari Tuhan. Ini berdasar-kan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi, orang Islam tidak mempercayai hal itu (berbeda agama maka beda pula cerita yang dicerita-kan agama masing-masing), sehingga lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.


Rabu, 27 Februari 2013

Penyebutan yang Salah Kaprah dalam Pramuka


Dalam lingkungan Gerakan Pramuka, banyak mengenal beberapa istilah atau singkatan singkatan yang kadangkala orang keliru dalam bahasan kata atau peyebutannya. Hal ini menjadi yang biasa karena kebiasaan yang dilafalkan dan “dianggapkan” dalam kehidupan sehari hari . Demikian pula dianggap memiliki kedekatan (dihubung-hubungkan) maknanya, yang belum tentu benar sesuai arti yang sesungguhnya. Misalnya saja seperti di bawah ini.

1. Di Lingkungan gugusdepan, seseorang yang setiap kali memberikan latihan kepramukaan berarti orang tersebut melatih pramuka. Karena melatih, maka dengan gampang saja mereka itu dikatakan Pelatih. Hal ini biasa terjadi karena orang tersebut dianggap sering melatih peserta didik. Padahal yang disebut dengan Pelatih dalam gerakan pramuka adalah anggota pramuka dewasa yang telah menyelesaikan pendidikan minimal Kursus Pelatih Dasar (KPD).

2. Di lingkungan Penegak Pandega kita mengenal yang namanya Dewan Kerja Penegak dan Pandega. Ditingkat Nasional disebut dengan Dewan Kerja Nasional ( DKN ), kemudian Dewan Kerja Daerah ( DKD ), Dewan Kerja Cabang (DKC ) dan Dewan Kerja Ranting ( DKR ), namun masih sering orang menyebut satuan ambalan dengan sebutan Dewan Kerja Ambalan (seolah disingkat DKA), yang benar adalah Dewan Ambalan saja tanpa kata “Kerja”.

3. Di Lingkungan Gerakan Pramuka , dilihat dari sistem komunikasi dan hubungan pembina dengan peserta didik adalah “kakak dan adik”, ternyata untuk sebutan ini tidak berlaku untuk golongan pramuka siaga, buktinya Yahnda dan Bunda memanggil mereka dengan sebutan “anak-anak siaga” dan bukan “adik-adik siaga”

4. Di Satuan Ambalan kita menyebut pemimpin ambalan dengan nama jabatannya yaitu Pradana, adakalanya untuk memudahkan panggilan dan membedakan antara pemimpin ambalan putra dan pemimpin ambalan putri , mereka menyebut dengan panggilan Pradana untuk putra sedangkan Ambalan putri dipanggil dengan nama Pradani. Sebenarnya Pemimpin ambalan tetap disebut pradana, yang membedakan hanyalah yang satu dipimpin putra dan yang satunya dipimpin putri.

Tentunya masih banyak istilah atau singkatan yang salah sebut, dan ada baiknya segera diluruskan agar tidak menjadi semakin “salah kaprah”. Masihkah ada lagi ?

Disalin sepenuhnya dari pramukanewss.blogspot.com

Selasa, 26 Februari 2013

Nokia Theme - Point Blank

 
(Klik unt biar gede )

Buat HP Nokia Type   2700 classic,   2700c,   2710 Navigation,   2710c,   2730 classic,   2730c,   3120 classic,   3208,   3208 classic,   3208c,   3600 slide,   3600s,   3610 fold,   3610a,   3710 fold,   3720,   3720 classic,   5000,   5130 Xpress Music,   5130 XpressMusic,   5220 Xpress Music,   5220 XpressMusic,   5300,   5300 Xpress Music,   5310 Xpress Music,   5310 XpressMusic,   5330,   5330 Mobile TV,   5330 MobileTV,   5330 Xpress Music,   5330 XpressMusic,   5610 Xpress Music,   5610 XpressMusic,   6126,   6131,   6131 NFC,   6133,   6208 classic,   6208c,   6212 classic,   6216 classic,   6233,   6234,   6263,   6265,   6265i,   6267,   6270,   6275,   6275 CDMA,   6275i,   6275i CDMA,   6280,   6282,   6288,   6300,   6300i,   6301,   6303 classic,   6303c,   6303ci,   6303i classic,   6350,   6500,   6500 Classic,   6500 Slide,   6500c,   6500s,   6555,   6600 fold,   6600 slide,   6600i slide,   6600i Slide,   6700,   6700 classic,   6700c,   6750 Mural,   7020,   7100 Supernova,   7100s,   7210 Supernova,   7230,   7310 Supernova,   7310c,   7310s,   7370,   7373,   7390,   7500 Prism,   7510 Supernova,   7510a,   7610 Supernova,   7610s,   7900 Prism,   8600 Luna,   8800 Arte,   8800 Carbon Arte,   8800 Gold Arte,   Asha 202,   Asha 203,   Asha 300,   Asha 302,   Asha 303,   C2-01,   C2-02,   C2-03,   C2-05,   C2-06,   C3-01,   C3-01 Gold Edition,   X2,   X2-00,   X2-02,   X2-05,   X3,   X3-00,   X3-02 silakan di donlot.

DOWNLOAD ( 1,6 MB )
>

OwnSkin  |  Mobile9  |  4Shared


Sumber : Game Movie X ( GM-eX )


Asal Usul Nama Indonesia

Oleh IRFAN ANSHORY

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang
diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.


Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi,
Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.


Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang
terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air
kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi
rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.


Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, "Lamun huwus kalah nusantara, isun amuktipalapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.


Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan
Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: ... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia(Kepulauan
Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya
dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang
jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai
1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga
sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian
mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.


Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi
itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia"
akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku!

***

Penulis, Direktur Pendidikan "Ganesha Operation"

Pikiran Rakyat Cyber Media, 16 Agustus 2004

Disalin dari www.forumsains.com dan gambar diperoleh dari faisalman.wordpress.com